Friday, March 11, 2016

Jadwal Penerbitan SKTP 2016 dan Batas Waktu Perbaikan Data Berbasis Dapodik

Pengantar

Menjadi Guru apalagi Guru Sertifikasi merupakan anugerah yang wajib disyukuri. Bagaimana tidak, setiap triwulan guru akan menerima tunjangan sertifikasi. Besarnya? Yang jelas lebih tinggi dibanding honor guru honorer, tinggi-tinggi sekali malah

Perlu untuk diketahui bahwa sertifikasi Guru tidak pernah dikenal sebelumnya. Pada zaman Majapahit, Belanda, zaman Jepang, Presiden Piye Kabare hingga Presiden Megawati tidak ada satupun Guru yang deg-degan menanti tunjangan sertifikasi. Saat itu guru hanya menanti gaji. Bahkan pada zaman majapahit, mungkin saja guru tidak digaji oleh Kerajaan.

Lalu zaman pun berubah. Terbitlah pelbagai Undang-Undang. Dasar hukum sertifikasi guru adalah Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen (UUGD) yang disahkan tanggal 30 Desember 2005,  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2007.

Siapakah yang membuat UU tersebut?
Siapakah yang mengesahkan UU dan Peraturan Menteri tersebut?

Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 dibuat oleh DPR saat itu, disahkan oleh Presiden SBY dan diundangkan oleh Menkumham Yusril Ihza Mahendra. Sedangkan Permendiknaa Nomor 18 tahun 2007 ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.

Lima paragraf di awal hanyalah pembuka tulisan bahwa situasi nasional sangat berpengaruh terhadap nasib manusia Indonesia. Bahkan anggota DPR yang kita hujat tiap hari ternyata mereka telah menghasilkan UU yang mengubah nasib guru, yang dulunya naik sepeda kumbang kini naik Innova Kijang.

Jadwal Penerbitan SKTP 2016

Sekarang akan saya bagikan informasi perihal jadwal penerbitan SK Tunjangan Profesi Guru. Filenya dalam bentuk gambar JPEG. File ini bisa anda unduh dan simpan pada komputer anda.



























Pada situasi ini tidak ada yang lebih galau menanti SKTP selain Operator Sekolah. Meskipun Operator bukan penerima SKTP, tetapi hampir setiap hari mereka mengecek website yang berisi SKTP yang akhir-akhir ini sering tidak bisa dibuka.

Sesuai yang tertera pada jadwal di atas. SK terbit pada 3 Maret 2016. Bagi guru yang kebetulan datanya salah, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dari 4 Maret hingga 4 Juni 2016. Mudah-mudahan tidak ada kesalahan pada saat pengisian dapodik, sehingga Tunjangan Sertifikasi bisa diterima tepat waktu.



Friday, November 27, 2015

Pentingnya Literasi Informasi Bagi Guru Dan Pustakawan Sekolah

Menurut wikipedia, Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi. Literasi informasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Pemilihan dan pemilahan informasi yang tepat oleh Guru maupun peserta didik dalam proses belajar di sekolah membutuhkan keahlian tersendiri.

Saat ini kemampuan literasi informasi sangat penting dimiliki oleh Pustakawan maupun Guru. Mudahnya mendapat informasi membuat masyarakat akan mengalami kebingungan saat harus memilih dan memilah informasi yang tepat yang berguna bagi dirinya. Berhadapan setiap hari dengan peserta didik, mau tidak mau akan menimbulkan masalah yang harus segera diselesaikan. Masalah tersebut misalnya bagaimana mengatasi peserta didik yang terkesan tak acuh terhadap pelajaran atau bagaimana mengajarkan metode pengajaran yang tepat dalam mengajar.

Sebaliknya, bagi peserta didik, mereka juga mengalami masalah misalnya, bagaimana agar nilainya baik, bagaimana mengatur waktu belajar atau bagaimana agar bisa cepat memahami materi pelajaran. pertanyaan yang lebih penting lagi, bagaimana Pustakawan, Guru maupun peserta didik bisa merumuskan masalahnya.

Untuk mengatasi semua itu, ada beberapa model pendekatan untuk memecahkan masalah.

Model pertama, bernama British Model. Model ini diterapkan di sekolah dan disebut dengan keterampilan informasi. Model British mempunyai sembilan langkah untuk memecahkan masalah yaitu:

(1) Memformulasikan dan menganalisa kebutuhan
(2)Mengidentifikasi dan memeriksa sumber-sumber informasi
(3) Menelusur dan menemukan sumber-sumber individu
(4) Menguji, memilih sumber-sumber informasi
(5) Mengintegrasikan sumber-sumber informasi tersebut
(6) Menyimpan dan mensortir informasi
(7)Menginterpretasikan, menganalisa, mensintesiskan dan mengevaluasi informasi
(8) Mempresentasikan atau mengkomunikasikan informasi dan
(9) Mengevaluasi. Dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini, masyarakat memiliki akses yang sangat mudah terhadap informasi.

Model Kedua, Big 6™ adalah sebuah model literasi informasi yang dikembangkan oleh Michael B.Eisenberg and Robert E. Berkowitz di Amerika Serikat pada tahun 1988. Model ini sangat populer bukan saja di Amerika Serikat melainkan juga negara-negara lain yang sudah menyadari pentingnya penerapan literasi informasi dalam proses belajar mengajar di sekolahnya. Eisenberg dan Berkowitz juga secara aktif dan berkelanjutan melakukan promosi dengan mengeluarkan terbitan-terbitan yang bermanfaat bagi pemakainya. Di Indonesia sendiri, model ini juga popular digunakan di banyak sekolah maju dalam kegiatan program literasi informasi mereka. Bahan-bahan tentang model ini juga sangat mudah diperoleh di internet dibandingkan model-model lainnya. Itu sebabnya, pengguna model ini dapat dengan mudah memperoleh hal-hal baru yang dikembangkan oleh Eisenberg dan Berkowitz melalui internet. Dengan demikian, penggunaannya juga semakin memasyarakat. Apalagi, pengembang model ini juga menciptakan model sederhana bagi para siswa di sekolah dasar untuk memudahkan mereka dalam mengembangkan keterampilan literasi inforami sejak dini. Model ini disebut dengan Super3 yaitu Plan, Do dan Review. Sejauh ini, hanya model ini yang dikembangkan secara khusus untuk anak-anak di sekolah dasar.

Enam langkah dalam model Big 6™ adalah:
(1) Penentuan tugas atau masalah
(2) Strategi pencarian informasi
(3) Pencarian sumber informasi yang diperlukan
(4) Pemanfaatan informasi yang sudah diperoleh
(5) Pengintegrasian informasi yang diperoleh dari sumber-sembert tersebut
(6) Pengevaluasian terhadap hasil informasi yang diperoleh dan proses pemecahan masalahnya.

Perpustakaan Kemendikbud Selenggarakan Workshop Literasi Informasi


Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selenggarakan workshop literasi informasi bagi guru dan pustakawan sekolah. Kegiatan ini digelar di Perpustakaan Kemendikbud Jakarta Rabu (25/11). Workshop ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2015.

“Workshop seperti ini penting sekali untuk pustakawan dan guru dalam pemecahan masalah siswa,” kata Hana Chaterina George, Ketua Asosiasi Profesional Informasi Sekolah Indonesia (APISI). Hana menambahkan bahwa saat ini banyak siswa yang tidak tahu akan pentingnya mencantumkan sumber informasi yang ia ambil. Hal tersebut terjadi karena sejak dini tidak pernah diajarkan mengenai literasi informasi, tambah Hana.

Peserta workshop ini berjumlah 28 orang yang terdiri dari guru dan pustakawan sekolah. Manfaat penerapan literasi informasi ini, yaitu: a. Keragaman sumber informasi dalam bentuk tercetak maupun elektronik; b. meningkatkan kemampuan reading comprehension dan kemampuan pembelajaran serta penelitian; c. siswa yang memperoleh keterampilan literasi informasi di sekolah akan lebih sukses di perguruan tinggi; dan d. menjadi pembelajaran seumur hidup.


sumber artikel :
http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4878
http://halatuputty.blogspot.co.id/2013/12/cerdas-di-era-informasi-penerapan.html




Tuesday, November 24, 2015

Pidato Mendikbud Anies Baswedan Di Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2015

Tertulis di bawah ini, pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Anies Baswedan untuk Guru di Indonesia pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2015.


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan,

Semoga Ibu dan Bapak Guru berada dalam kondisi sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya. Di Hari Guru ini, izinkan saya atas nama pemerintah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas semua pengabdian Ibu dan Bapak Guru. Tugas dan tanggung jawab Ibu dan Bapak Guru amat besar, namun izinkan saya menyampaikan bahwa tanggung jawab besar ini janganlah dipandang sebagai beban tapi sebagai kehormatan. Ibu dan Bapak Guru mendapat kehormatan untuk menumbuhkan generasibaru yang tercerdaskan.

Ibu dan Bapak Guru sekalian,
Republik ini dirintis dan didirikan oleh kaum terdidik. Mereka adalah generasi baru di zamannya yang merasakan pengajaran, pendidikan dan pencerahan. Mereka sangat sadar atas manfaat langsung pendidikan dan karena itulah mencerdaskan kehidupan bangsa mereka tetapkan sebagai sebuah amanah yang harus ditunaikan. Sebuah pesan tegas bahwa kunci kemajuan bangsa ini ada pada kualitas manusianya. Ibu dan Bapak Gurulah yang berada di garda terdepan mewakili seluruh bangsa dalam menjalankan amanah itu. Tiap tutur, tiap langkah dan tiap karya Ibu dan Bapak Guru adalah ikhtiar untuk mencerdaskan bangsa.

Orangtua, yang adalah pendidik pertama dan utama, dan pun mereka memercayakan pada Ibu dan Bapak Guru untuk turut mendidik anak-anaknya. Mari kita ingat pula, mereka bukan sekadar anak-anak, namun mereka adalah wajah masa depan bangsa ini. Ibu dan Bapak Gurulah orang pertama yang berkesempatan melihat dari dekat wajah masa depan negeri ini. 

Ibu dan Bapak Guru yang saya hormati,
Ki Hadjar Dewantara menyebut tempat belajar sebagai taman. Istilah itu meneguhkan tekad bahwa pendidikan memang harus menjadi sebuah proses pembelajaran menyenangkan walau penuh tantangan. Pendidikan tidak boleh terasa sebagai penderitaan. Sekolah harus terasa menyenangkan.
Sekolah menyenangkan adalah sekolah di mana semua ikut terlibat, baik guru, siswa maupun orangtua ikut mendukung pembelajaran bersama dan menjadi teladan bagi komunitasnya. Sekolah menyenangkan adalah sekolah yang memberikan pembelajaran bermakna, bermanfaat dan relevan dengan kehidupan siswa serta kebutuhan masyarakat. Sekolah menyenangkan bukanlah sekolah tanpa tantangan, melainkan justru sekolah yang memberikan ragam pilihan dan tingkatan tantangan kepada guru dan siswa yang juga beragam.

Sekolah menyenangkan hanya bisa terjadi bila guru pun terus belajar, serta terus berkarya. Karya-karya Ibu dan Bapak Gurulah yang akan terus mengembangkan senyum anak-anak kita. Karya-karya Ibu dan Bapak Guru yang membuat lonceng masuk sekolah layaknya pertanda dimulainya sebuah petualangan menyenangkan di sekolah.

Untuk mengimbangi keteguhan guru dalam berkarya, pemerintah juga berikhtiar akan terus memberikan ruang bagi guru untuk terus berkarya, untuk mengembangkan diri. Mari kita terus mengembangkan diri secara mandiri maupun secara bersama-sama.

Pemerintah menyadari bahwa masih ada berbagai pekerjaan rumah terkait Guru yang harus kami tuntaskan. Insya Allah itu semua akan terus menerus kami perbaiki. Di saat yang sama mari kita sama-sama memastikan bahwa semua ikhtiar kita benar-benar dipusatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menumbuhkan semua potensi anakanak kita hingga mereka bukan sekadar bisa meraih, tapi bisa melampaui cita-citanya.

Dalam kesempatan peringatan Hari Guru ini saya ingin mengajak Ibu dan Bapak Guru untuk sama-sama menunjukkan pada bangsa tercinta ini bahwa guru Indonesia adalah guru pembelajar. Guru yang selalu hadir sebagai pendidik dan pemimpin bagi anak didiknya. Guru yang hadir mengirimkan pesan harapan. Guru yang makin menjadi contoh tentang ketangguhan, optimisme dan keceriaan.
Mari kita teguhkan ikhtiar Ibu dan Bapak Guru, ikhtiar kita bersama untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Kita terus belajar dan mengembangkan diri bukanlah untuk pemerintah, bukanlah untuk kepala sekolah, dan bukanlah untuk kantor dinas, tapi memang sejatinya setiap pendidik adalah pembelajar.

Mari sama-sama kita kirimkan pesan kepada seluruh komponen bangsa ini, bahwa guru mulia karena karya! Hanya dari guru yang terus belajar dan berkarya akan muncul generasi pembelajar sepanjang hayat yang terus menerus berkontribusi pada masyarakat dan lingkungannya.
 Pada setiap kata yang kami tuliskan, ada pahala guru. Pada setiap karya yang kami lakukan, ada sidik jari jasa guru. Apresiasi kami bagi seluruh Guru, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan, atas semua inspirasi dan karya yang dipancarkan di ruang-ruang pembelajaran. Dengan rendah hati atas nama pemerintah, saya ingin kembali sampaikan rasa hormat dan terima kasih sedalamnya. Selamat Hari Guru dan selamat berkarya!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Hangat
Ttd

Anies Baswedan


Monday, November 23, 2015

Sambutan Ketua Umum PGRI dalam Peringatan HGN 2015 dan HUT PGRI ke 70

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Pada awal sambutan ini, marilah kita bersama-sama mengucapkan salam guru, salam PGRI, dan salam solidaritas. Yang saya hormati Bapak Gubernur…, Bapak Bupati…, Bapak Walikota…., Bapak/lbu para Pejabat Sipil, TNI, dan Polri, Segenap Pengurus PGRI, para undangan, serta anggota PGRI di seluruh tanah air yang berbahagia,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan nikmat yang dilimpahkan kepada kita, sehingga pada hari ini kita bersama dapat melaksanakan upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2015 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 PGRI.

Tanggal 25 November 2015, tujuh puluh tahun yang lalu, PGRI lahir pada saat Kongres Guru Indonesia di Surakarta yang juga disebut Kongres Guru I. PGRI lahir dari kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan para guru, dosen, tenaga kependidikan, para pensiunan guru, dan para pegawai Kementerian Pendidikan dan Pengajaran yang baru didirikan. Dengan semangat proklamasi 17 Agustus 1945 yang menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia, mereka bersatu untuk mengisi kemerdekaan.

Dengan lahirnya PGRI, maka segala bentuk perbedaan dan potensi perpecahan kelompok guru sepakat untuk dihapuskan. Ketika itu, puluhan organisasi guru sepakat membentuk satu-satunya organisasi profesi guru, yaitu PGRI, untuk itu kemudian membangun kekuatan bersama antaranggota, agar kuat dan berwibawa untuk mengawal mutu pendidikan dan memperjuangkan profesi guru dan tenaga kependidikan pada umumnya.

Tahun ini, tepat tujuh puluh tahun usia PGRI, usia yang matang sebagai organisasi profesi, organisasi perjuangan, dan organisasi ketenagakerjaan yang dikenal sebagai jati diri organisasi sejak awal berdirinya tahun 1945. Perayaan ke-7 dasawarsa kali ini dirayakan dengan berbagai kegiatan untuk memantapkan PGRI sebagai organisasi profesi guru dengan puncak acara di tingkat nasional akan dilaksanakan apda 13 Desember 2015 di stadion Utama, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta yang dihadiri oleh 100.000 (seratus ribu) guru dan tenaga kependidikan dari seluruh Indonesia.

Selengkapnya, silakan download Sejarah Singkat dan Sambutan Ketum PB PGRI - HGN 2015 dan HUT PGRI ke-70



Monday, November 16, 2015

Sejarah Hari Guru Nasional 25 November

Selain disibukkan dengan kegiatan UKG 2015, pada bulan November ini, Guru di Indonesia akan memeringati hari Guru Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 25 November. Untuk itu agar peringatan tersebut agak lebih bermakna, para Guru perlu mengetahui sejarah Guru di Indonesia.

Prakemerdekaan

Sejarah guru di Indonesia dimulai sejak zaman kolonial Belanda.  Pada tahun 1912 di bawah pemerintahan kolonial Belanda, para tokoh yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mendirikan sebuah organisasi profesi yang diberi nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi guru ini memiliki anggota dari berbagai aktivis pendidikan meliputi Guru Bantu, GUru Desa, Mantri Guru (Kepala Sekolah) dan penilik sekolah yang bekerja di sekolah-sekolah tanah air.

Seiring dengan semakin tingginya semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meraih kemerdekaan, organisasi ini berkembang pesat . Pada 1932 organisasi ini berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Pascakemerdekaan

Momentum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang  juga dimanfaatkan para pegiat pendidikan tanah air. Mereka yang tergabung dalam PGI menyelenggarakan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 - 25 November 1945. Kongres yang berlangsung selama dua hari di kota Surakarta ini melahirkan ikrar untuk mendukung NKRI. Dalam kongres itu pula nama organisasi PGI diubah lagi menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia.
Logo PGRI

Dalam artikel yang tertulis  disitus resmi PGRI, karena jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah RI melalui Kepres No 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Keppres itu juga diperkuat dengan lahirnya Undang-undang  Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

dari berbagai sumber