Thursday, February 12, 2009

Kini Kita Telah Merdeka - Bangkitlah Negeri Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan bangsa manapun di dunia. Itulah sebabnya bangsa Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, menjadi tujuan dari para Teroris, Imperialis Eropa maupun Jepang. Selama 350 tahun bangsa ini di jajah oleh Teroris, Imperialis Eropa dan kemudian dilanjutkan oleh negara Jepang. Mereka dengan seenaknya menjarah kekayaan bangsa ini. Menjajah, melakukan teror, menyiksa rakyat Indonesia saat itu. Rasanya tak terbayangkan kalau kita harus hidup di jaman penjajahan. Kita tidak bisa menikmati kehidupan dengan bebas seperti saat ini. Bisa hidup dengan tenang, bisa memilih pola kehidupan yang ingin kita tentukan.

Kini kita telah merdeka. Kita bebas menentukan apapun yang kita inginkan saat ini. Dan semua ini tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para pahlawan bangsa ini yang dengan gagah berani memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka bertempur melawan penjajah dengan mengorbankan segala galanya demi bebas dari belenggu penjajahan. Semangat jihad, ikhlas dan patriotisme mereka yang harus kita tanamkan dalam mental kita untuk membangun bangsa ini, mewujudkan kemerdekaan hakiki di dunia dan akhirat. Bukan hanya kemerdekaan di dunia ini saja.

Kini kita telah merdeka. Merdeka dari teroris dan imperialis penjajah dari suku barbar Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Kini tak ada lagi teriakan Bung Tomo yang dengan lantang menyatakan tidak akan menyerah kepada tentara barbar Inggris. Atau mungkin Komando dari seorang tokoh Islam bangsa Indonesia, Yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam perjalanan gerilya melawan penjajah dan teroris dungu Belanda. Kita tinggal melangkah, menyusuri jalan yang dibangun dengan tetesan darah oleh CUt Nya Dien, Sultan Agung, Pangeran DIponegoro, Pattimura dan putra putra terbaik Indonesia tercinta ini.

Kini kita telah merdeka. Para teroris itu telah pergi karena perjuangan tak kenal lelah dari para pendahulu bangsa ini. Allahu AKbar, Bambu Runcing, gerilya, pekikan semangat merdeka atau mati telah membuat membuat mereka harus meninggalkan negeri Indonesia yang pernah mereka namakan Hindia BElanda.

Kini kita telah merdeka. Tinggal kita yang menentukan nilai kemerdekaan ini. Tinggal kita yang akan menentukan apakah kelak, nama kita dikenang oleh anak cucu kita kelak. Seperti ketika kita mengenang Bung Karno dan para pahlawan. Atau mungkin kita hanya mewariskan kehancuran bagi anak cucu kita kelak.

Kini kita telah merdeka, jangan cengeng menghadapi kehidupan ini. Tantangan membentang menunggu kita untuk menyelesaikan semua masalah. Lakukan yang terbaik untuk bangsa Indonesia. ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR , MERDEKA..!!

Wednesday, July 16, 2008

Inilah Anggota Menwa Termuda di Indonesia

Ini adalah Foto Anggota Menwa Termuda, dari Satuan 916 Menwa UMS,
Muhammad Haidar Dzilqarnaen.






MERDEKA

Kangen Kota Solo



Bukannya mengeluh, tapi sekedar curhat. Setelah posting artikel yang agak mikir-mikir dikit, pake boso inggris lagi. Kepala terasa pusing. Akhirnya saya nulis disini. Hari-hari ini saya bener-bener kangen berat sama kota solo, tepatnya di Kartosuro, tepatnya lagi Pabelan. Yah aktivitas kota Jakarta yang bener-bener sibuk, bener-bener menguras energi dan pikiran. Pekerjaan sebagai Tukang Call Center yang pergi petang pulang Pagi, membuat waktu 24 jam terasa singkat. Memang setelah bekerja melayani pelanggan, saya akan menyempatkan untuk ngeblog dulu. Itu yang setiap hari saya lakukan.

Kembali ke Solo. Memang sih, saya tidak dilahirkan di kota Solo, tapi di Grobogan. Tapi sebelum saya minggat ke Jakarta untuk mencari rezeki (karena di Solo saya tidak laku), saya menghabiskan waktu delapan tahun di Solo. Kuliah di UMS Surakarta. Lalu kenapa bisa kangen seperti ini, apa dulu punya kenangan di Solo?. Itu pasti. Banyak kenangan di Kota solo dan sekitarnya, mulai dari kampus, Jalan raya, makanan, Sego Kucing atau hik, hiburan, masjid, dunia mahasiswa, Menwa, warnetnya yang canggih-canggih dan kisah cinta dan yang tidak kalah penting adalah orang solo yang sangat ramah. Pokoknya terlalu banyak lah. Bagi saya Solo itu sangat indah untuk dikenang.
Hari ini jam 22:30 WIB, jam sekarang kalo di Solo saya akan nongkrong di Hiknya Robert, pertigaan Kampus UMS (mungkin inilah penyebabnya saya lulusnya telat). Minum Es Lemon Tea, sambil mbakar ati, Rokok Dji Sam Soe. Biasanya bersama para senior saya di menwa ada Pam Bagus, Wadan Heri, Ndan Novi, Ndan Eko, Provost Topix, Wadan Tete, Gundul, Wah pokoke akeh banget. Mereka itu dulu yang nyuruh saya jungkir balik Lapangan Pabelan sampai elek. Kini jadi saudara. Hingga saya berada di jakarta itu karena manut sama Ndaki saya di Menwa dulu, Nurwanto.
Saya hanya ikut saja sama senior saya itu. Tema obrolan kita macem-macem, nggak ada habisnya pokoke, bisa tentang Negara, TNI, Polisi, Islam, dunia mahasiswa, dunia wanita dan dunia hiburan. Lalu setelah jam 00:00 kita pulang, bukan ke kos masing-masing tapi kembali ke kampus, tidur di Mako Menwa UMS. Besoknya nggak kuliah, kuliahnya Di Menwa.
Sudah ya bingung mau nulis apa...

Monday, February 25, 2008

Magelang, 18-03-2002

Beberapa hari yang lalu, ketika perjalanan pulang dari Daan mogot sampai Taman Anggrek, Grogol, dengan naik "95", bus yang saya tumpangi tersebut memutar radio, kebetulan yang diputar adalah lagu poco-poco. Bukan apa-apa, saya cuma teringat saat di RINDAM IV Diponegoro, Magelang. Lagu tersebut di putar pada saat penutupan Diksar Menwa Yudha XXV . Ada rasa rindu untuk kembali mengikuti Pendidikan lagi. Kegembiraan dirasakan hampir semua peserta Pendidikan Menwa, saat itu ada sekitar 2 Kompi, yang terdiri dari perwakilan Menwa di Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah, . Kami mengikuti pendidikan atas keinginan sendiri.

Berarti sudah enam tahun berlalu, sejak saya resmi menjadi anggota Menwa. Terus terang dulu saya bercita-cita menjadi Polisi atau Tentara . Itulah sebabnya saya tertarik masuk organisasi ini. Tapi ternyata keinginan awal saya justru sirna, setelah saya masuk organisasi Menwa. Ada hal lain yang membuat saya justru tidak lagi berminat berkarir di Militer, yakni kebebasan.