Monday, October 31, 2011

Bus Pati Purwodadi

Jam menunjukkan jam 22:00 saat bis Jaya Utama jurusan Surabaya-Semarang tiba di pertigaan menuju ke terminal Pati, Jawa Tengah. Saya bergegas turun dari bus, untuk melanjutkan perjalanan dari pati ke Purwodadi. Suasana Pati agak sepi, karena baru saja diguyur hujan. Saya sudah yakin bahwa memang tidak ada bus jurusan Pati-Purwodadi di jam 22:00 WIB. Maka hanya ada pilihan ojek atau menunggu sampai ada bus keesokan paginya.

Saat berjalan, tiba tiba ada suara sepeda motor mendekat. Dugaan saya benar, ternyata seorang Bapak yang berprofesi sebagai tukang ojek, menawarkan jasa kepada saya."ojek mas?", Kata sang bapak. Saya menjawab,"Ke Sukolilo berapa?". "50 ribu mas", kata beliau. Tapi bagi saya ongkos tersebut terlalu mahal, sebab sebagai perbandingan saya pernah naik ojek dari Kudus ke Grobogan ongkosnya 60 ribu rupiah. Maka saya berkesimpulan, seharusnya dari Pati ke Sukolilo tarifnya 25.000 atau 30000. Saya tawar 30000 ternyata beliau menolak. Saat sedang berjalan, ternyata saya melewati warung internet yang masih buka. Saya lalu bertanya ke Operator warnetnya, kira kira 1 jam berapa?. Ternyata ada paket sepuluh ribu rupiah untuk 6 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat di warnet sambil menunggu bus di pagi harinya.
Dari kernet bus Pati-Purwodadi saya tahu bahwa jadwal Bus Pati-Purwodadi sudah tidak beroperasi pada jam 17:00 WIB. Dan mulai lagi pada jam 03:00 WIB.

Sunday, July 3, 2011

Secuil Kisah Tentang Senopati Pamungkas

...Tak salah lagi gadis kecil yang ada di Keputren itu adalah anak dari Gayatri, seorang permaisuri raja. Sudah lama sebenarnya Upasara memendam rasa kepada Gayatri, begitupun sebaliknya sejak pertemuan mereka pertama kali. Pertemuan yang salah sebenarnya, karena saat itu Gayatri adalah calon istri Kertarajasa Jayawardana. Dan kali ini oleh suatu keadaan mereka dipertemukan di Keputren. Rasa rindu yang selama ini terpendam, hanya terangkum dalam kebisuan. Gayatri sudah berstatus sebagai permaisuri, bahkan sudah memiliki putri....."
Sepenggal kisah diatas adalah sedikit kisah dari novel Senopati Pamungkas, karya Arswendo Atmowiloto. Dan di akhir kisah ini, Upasara akhirnya memilih Genduk Tri menjadi pendamping hidupnya. Dan lanjutan novel ini, ditulis Arswendo dalam novel berjudul Tembang Tanah Air. Ada jutaan kisah romantis, inspirasi, motivasi yang dirangkum dalam berbagai karya sastra semacam novel, puisi, syair dan lain lain. Kalau anda tertarik, silahken beli bukunya di Gramedia atau Gunung Agung.

Saturday, June 4, 2011

Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono (Musikalisasi)

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Download Musikalisasi Hujan Bulan Juni

Saturday, May 28, 2011

Berkumpul Kembali di Hadapan-Nya

Pagi berganti siang, siang berganti malam. Begitulah siklus kehidupan di dunia ini. Kita lahir sebagai seorang bayi, yang dibesarkan oleh kedua orangtua kita. Ada juga yang dibesarkan oleh orang lain, mungkin karena sesuatu hal. Saat itu pula semua orang mungkin itu kakek, nenek, kakak, paman, bibi ataupun tetangga kita ikut menjadi saksi kehidupan kita.
Dalam kehidupan, kita memiliki orang orang yang sangat kita cintai dan merekapun mencintai kita setulus hati. Misalnya ayah, ibu, kakek nenek, atau siapapun dia. Kita tahu bahwa setiap detik perjalanan waktu kita adalah menuju kehidupan yang sesungguhnya-kita lebih mengenal sebagai kematian. Saat itu pula, satu persatu kita akan berpisah dengan orang orang yang sangat kita cintai. Mungkin kita sudah ditinggalkan oleh orang yang kita cintai tersebut. Kita tak kuasa menitikkan airmata ketika orang yang kita cintai tersebut pergi menghadap Allah SWT. Hingga yang tersisa adalah kerinduan abadi.
Sungguh sebuah hal yang sangat membahagiakan, jika suatu saat kelak, Allah masih mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita cintai tersebut dalam kehidupan yang lebih baik di akhirat. Amin..

Tuesday, May 24, 2011

Menulis Tengah Malam

Judul diatas terinspirasi sebuah judul novel "Matahari lewat tengah malam" entah siapa penulisnya, saya hanya sempat membaca sampulnya. Lalu apa hubungannya dengan "Menulis Tengah Malam"?. Hubungannya adalah sama sama tengah malam :D. Saat ini di sela sela aktivitas jualan sebagai affiliate, saya mencoba untuk menulis sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi anda dan saya sendiri. saya mencoba menulis artikel tentang pentingnya menulis bagi kehidupan.
Aktivitas menulis sebenarnya merupakan sebuah proses yang sangat penting bagi sebuah kehidupan. Kenapa bisa begitu?. Berdasarkan sejarah yang pernah saya baca tentang kenapa Al-Quran bisa sampai ke tangan kita hingga hari ini?. Alquran pada awalnya bukanlah sebuah buku, hingga akhirnya dibukukan pada saat Khalifah Utsman bin Affan.
Itu hanya satu contoh pentingnya menulis bagi kehidupan. Untuk itu tidak ada salahnya kita mencoba untuk menulis apapun yang kita sukai, agar kelak bisa berguna bagi kita sendiri maupun orang lain. Saya yakin tulisan yang bermanfaat akan disukai oleh pembaca. Selamat menulis meskipun harus menulis tengah malam

Thursday, May 5, 2011

Aku menulis maka Aku Ada

Cogito Ergo Sum, yang artinya aku berfikir maka aku ada. Merupakan sebuah ungkapan yang sangat terkenal hingga hari ini. Bagi seorang penulis seperti saya, ungkapan tersebut saya ganti menjadi Aku Menulis Maka Aku Ada. Menulis merupakan hal terpenting bagi seorang blogger, apapun jenis blog anda termasuk jika anda adalah blogger matre sekalipun (seperti saya). Bahkan jika blog anda adalah blog gambar, atau blog video, itupun tetap membutuhkan tulisan yang akan mengkomunikasikan dan menjelaskan isi blog anda.
Hari ini mungkin akhir kebuntuan saya selama ini yang jarang menulis, kecuali di fesbuk dan twitter. Saya memang sering menulis di dua socmed tersebut. Juga menulis review produk dalam bahasa Inggris, yang itupun sudah dibantu oleh rekan saya yang lebih berpengalaman. Kemampuan Bahasa Inggris saya memang memprihatinkan. Tapi tidak masalah.
Harapan saya, mudah mudahan ada sejuta kemudahan bagi saya agar mudah untuk menulis rutin minimal 1 kali seminggu di blog ini.
Jadi di tahun 2011 ini, praktis saya hanya fokus mengupdate blog jualan saya lainnya, dan parahnya saya lebih sering update status di facebook. Kok parah? Begini, Facebook seharusnya hanya sebagai selingan ketika kita sedang melakukan kegiatan utama. Bagi saya kegiatan utama adalah nulis di blog/ website. Jika aktivitas update Facebook ternyata lebih diprioritaskan, berarti pekerjaan utama jelas terganggu. Coba bayangkan, pejamkan mata anda, sudah? lho bayangkan sekarang, bukan nanti. Jika anda punya pekerjaan utama terganggu, gimana rasanya coba?. Pasti akan terjadi ketidakseimbangan, benar kan?. Nah itu jelas parah. Padahal kenikmatan menulis di blog dengan di facebook jelas berbeda 180 derajat celcius :D. Untuk itu sudah sewajarnya saya harus kembali menulis di blog ini, untuk membuktikan bahwa saya memang penulis bukan pengupdate status.

Wednesday, December 1, 2010

Kita Sedang Menjalani Peran Baru

Saya ingin mengawali artikel ini, dengan sebuah Puisi, Puisi yang sangat indah menurut saya.
“Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk menghindari berbagai hubungan yg dilarang sang Khalik.

Hari itu 30 okt 1983, si pria 29 tahun dan gadisnya 22 tahun.

Dua orang mahasiswa mengikat cinta dalam perkawinan untuk mendapat keturunan seperti yang dipertintahkan sang Khalik.

Anak pertamanya lahir, si bapak mengurus, menjaga malam hari, mengganti popok & memandikan.

Si Ibu menyusui. Mereka masih muda dan saling menyinta. Si pria 32 tahun dan kekasihnya 25 tahun.

Si pria sudah sarjana, setelah 10 tahun, setelah mempunyai anak dua. Mereka masih muda dan saling menyinta, si pria 34 tahun dan kekasihnya 27 tahun.

Si pria sudah bekerja, kekasihnya sudah sarjana, anak mereka sudah 4. Hari itu mereka memasuki rumah yang diidamkan oleh setiap keluarga. Mereka masih bugar dan saling menyinta. Si pria 42 tahun dan kekasihnya 35 tahun.

Hari ini si pria 54 tahun, ia tergeletak karena sakitnya didampingi oleh kekasihnya yang 47 tahun, tidak muda lagi menjelang ulang tahun perkawinan mereka yang ke 25.

Dalam sakitnya berkelebat semua kenangan dengan kekasihnya. Dalam sakitnya ia
menulis untuk kekasihnya:

“Dik Uta,” demikian panggilan kesayangan sang pria setelah sakit untuk kekasihnya yang bernama Utami

“Saya tidak akan pernah lupa ketika awal penyakit itu datang kamu menenangkan saya dengan kata-kata

“Kita sedang menjalani peran baru”

Subhanallah, dik Uta kata-kata itu sangat menjadi inspirasi untuk saya menjalani sakit saya. Dan, saya selalu berdoa,

“Ya Allah berilah kecerdasan untuk kami agar kami selalu melihat semua ketetapanmu melalui sudut pandang yang membahagiakan”.

Peran Baru, itu adalah salah satu sudut pandang yang cerdas dan membahagiakan

Ahh di Uta, teralu banyak dan panjang jika saya tulis betapa rasa terima kasih atas ketegaranmu menjalani peran baru ini.

Saya tahu dik Uta sedih tapi kamu tetap tegar

Saya tahu dik Uta takut, tapi kamu tetap tegar

Saya tahu dik Uta lelah tapi kamu tetap tegar, mengurus saya, membersihkan, dan membalik badan saya setiap 1 jam di malam hari.

Saya tahu dik Uta ingin jalan-jalan untuk hilangkan jenuh tapi kamu tetap tegar mendampingi saya karena saya tidak bisa ditinggal terlalu lama sendiri.

Saya tahu dik Uta selalu mengharapkan kata-kata cinta dari saya tapi kamu tetap tegar walau kamu tak pernah mendengar kata-kata itu.

Hari ini kamu akan mendengarnya dari mulut saya

“Dik Uta, aku cinta kamu tanpa batas”

“Saya akan selalu bahagiakan kamu tanpa batas,”

“Saya akan selalu ada untuk kamu tanpa batas,”

Kelak kalau saya sudah bisa jalan, kita akan pergi kemanapun kamu mau

Yang selama ini hampir tidak pernah kita lakukan.

Dik Uta, pikirkanlah yang terbaik tentang cita-cita kita karena Allah SWT berfirman:

“Aku sebagaimana prasangka hambaKu”


Bagaimana menurut anda? indah bukan? Puisi tersebut saya dapat dari ritual blogwalking yang sebenarnya sudah lama saya tinggalkan. Puisi tersebut berasal sebuah blog Milik Om Pepeng. Ya Anda tidak salah, beliau memang benar Om Pepeng, yang dulu terkenal di RCTI dengan acara Jari Jari. Puisi tersebut menceritakan tentang apa yang terjadi antara Om Pepeng Soebardi dengan istri beliau Utami Mariam Siti Aisyah.
Sebuah cerita tentang kesetiaan tentu saja. Sebuah cerita yang bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk tetap menemani, mendukung dan merawat sahabat, anggota keluarga, istri, suami, anak, orang tua atau siapapun yang membutuhkan limpahan cinta dari anda. Yang saat saat ini mungkin mengalami hal yang sama, menderita Multiple Skleorosis seperti yang diderita Om Pepeng, Diabetes Melitus, Skizofrenia, Stroke, Kanker, Jantung, Hepatitis, Flu Burung, AIDS dan berbagai penyakit lainnya.
Ibarat aktor film, mungkin anda sedang menjalani peran baru dari Allah SWT yang saya tahu tidak mudah bagi semua orang dan mudah mudahan Allah memudahkan segalanya..
Semoga Puisi yang sebenarnya adalah bagian dari Kata Pengantar dari Buku Thats All, karya Om Pepeng dan Ibu Tami, bisa bermanfaat bagi anda.